Thursday, February 4, 2021

“Peran Kepemimpinan Gembala terhadap Pembinaan Iman Pemuda Kristen Di Era Revolusi Industri 4.0”


“Peran Kepemimpinan Gembala terhadap Pembinaan Iman Pemuda Kristen 
Di Era Revolusi Industri 4.0”

 Daud Padondan,
 3020175503 
Jurusan Kepemimpinan Kristen Institut Agama Kristen Negeri (IANK) Toraja 

 PENDAHULUAN 
         Abad ke 21 ini penduduk global didominasi oleh mayoritas generasi muda. Hal ini tergambar jelas dari lima benua di bumi yang memiliki populasi penduduk usia lanjut hanya sedikit. Usia rata-rata 17-25 tahun merupakan mayoritas penduduk yang mendominasi dunia saat ini, disini terlihat jelas bahwa persoalan kaum muda bukan hal yang kecil dan terbatas, namun sudah menjadi persoalan Global. Arifin Neor berpendapat bahwa “ Posisi Strategis ditempati oleh generasi muda saat ini, sebab kaum mudalah yang berpotensi terkena dampak dari perkembangan Teknologi.(1)
         Perkembangan Teknologi yang terus menerus menempatkan dunia saat ini di fase yang dikatakan sebagai Revolusi Industri 4.0 (Industrial Revolution/IR 4.0). Dengan adanya perubahan fase ke fase tentu memberikan tantangan tersendiri bagi kehidupan spiritualitas, sosial dan budaya. Indonesia merupakan salah satu Negara yang merasakan perubahan tersebut. Perubahan yang dialami yaitu masyarakat begitu dimudahkan dalam mendapatkan informasi baik dalam negeri maupun dari mancanegara. Tentu bukan itu saja, masyarakat Indonesia juga dimanjakan dengan hanya gerakan jari tangan dalam memenuhi dan mengurus kepentingannya melalui gadget. Tidak heran kalau saat ini kita melihat anak-anak yang beranjak usia remaja sudah mahir berinteraksi dalam pengguna gadget. Fase IR 4.0 di pihak lain memberikan dampak positif, tetapi di lain pihak juga memberikan dampak yang negatif. Keberadaanya memberikan ancaman tersendiri bagi indentitas dan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial yang beragama dan berbudaya. (2)  Hal ini terlihat jelas ketika dalam sebuah kelompok, terkadang setiap individu asik dengan gadgetnya sendiri dan mengiraukan orang-orang yang ada di sekitarnya. Nampak jelas juga kecenderungan Anak muda terhadap permainan online yang menurunkan relasi sosial dengan teman sebayanya terlebih relasinya dengan TUHAN. Kecanduan gadget membuat generasi muda tidak berpikir panjang untuk bertindak dan mengambil keputusan tanpa memperhitungkan hasil akhir dari apa yang mereka lakukan. Mereka mengandalkan diri mereka sendiri, mereka lupa akan adanya kekuasaan Tuhan pencipta mereka. Dengan melihat realita yang ada, maka gereja tidak boleh tinggal diam, peran Gembala sangat diperlukan disini untuk membina iman pemuda-pemuda Kristen. Mengingat mereka inilah yang akan menjadi tiang-tiang gereja yang kokoh untuk menopang Gereja. 
         Tentunya dengan kondisi demikian menjadi tantangan dan di lemah buat semua pihak, tak terkecuali di dalam lingkungan Gereja. Oleh karena itu dalam penulisan ini, penulis mencoba memberikan gambaran tentang revolusi Industri 4.0 dengan dampaknya terhadap spiritualitas generasi pemuda Kristen serta bagaimana peran Kepemimpinan Gembala dalam membina pemuda Kristen di Era Revolusi Industri 4.0 yang terjadi saat ini. 

 Metodologi
         Kajian ini merupakan kajian kualitatif yang menggunakan pendekatan literatur. Metode deskriptif, yakni menggambarkan tentang Era Revolusi Industri 4.0 dan dampaknya pada Spiritualitas pemuda Kristen serta menggambarkan bagaimana kepemimpinan Gembala dalam pembinaan Iman pemuda Kristen di Era Revolusi Industri 4.0. 

Pembahasan dan Hasil 
Deskripsi Era Revolusi 4.0 
         Satu momen Sejarah yang memutar balik kehidupan manusia baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya adalah Resolusi Industri. Terjadi pertama kali pada abad 17-18 dimana diawali dengan penemuan Uap yang berpengaruh dalam bidang pertanian, pertambangan dan transportasi. Penggunaan mesin uap dalam manufaktur telah menggantikan tenaga manusia dan hewan, sehingga memberikan dampak yang signifikan dalam pendapatan masyarakat yang kemudian berdampak atas ekonomi sosial, dan budaya. Pada abad 19 Revolusi Industri kedua dimulai yang ditandai dengan produksi massal dan penemuan listrik, yang juga disertai dengan penemuan pengembangan pesawat mobil, dan jaringan telepon. Kemudian, sekitar tahun 1960-an, revolusi industri ketiga dimulai yang kemudian dinamai revolusi Komputer atau digital, sampai kepada pengguna Internet. Dari semua perkembangan ketiga tersebut maka semua industri ini memiliki karakteristik masing-masing, yang menjadi titik acuan masuk kedalam resolusi industri keempat pada saat ini. 
        Industri 4.0 adalah istilah yang muncul dari ide revolusi industri ke Empat. Secara resmi lahir di Jerman tetapnya pada saat diadakan Hannoyer Fair pada tahun 2011. Industri 4.0 merupakan bagian terpenting dari kebijakan rencana pembangunan yang disebut High-Tech Strategy 2020 Jerman. Kebijakan tersebut bertujuan mempertahankan Jerman agar selalu menjadi yang terdepan dalam manufaktur. Tidak hanya Jerman, ada beberapa Negara lain juga yang turut serta mewujudkan konsep Industri 4.0 dengan istilah lain seperti Smart Factories, Industrial Internet of Things, Smart Indusrtry, atau Advanced Manufactruring. Semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan daya saing industri tiap Negara dalam menghadapi tantangan global yang sangat dinamis. Keadaan ini disebabkan oleh pesatnya perkembangan pemanfaatan teknologi digital di berbagai bidang. Pemanfaatan Industri 4.0 sebagian besar adalah mengenai perbaikan kecepatan-fleksibilitas produksi, peningkatan kepada pelanggan dan peningkatan pendapatan yang memberikan dampat positif terhadap perekonomian suatu Negara. (3) 
         Akses konten positif, dan disisi lain akses konten negatif. Penggunaan digitalisasi komputer dan jaringan internet memberikan beragam kekayaan informasi namun juga dapat saja dilakukan plagiarisme yang umumnya dapat dengan mudah terjadi. Artinya hal ini menunjukkan bahwa integritas pengguna internet sangat dibutuhkan. Pribadi dan karakter individu membutuhkan pondasi yang kokoh sehingga bisa mengabaikan kecurangan-kecurangan demikian. Di sisi lain, interaksi dengan jaringan internet memang juga memberikan dampak sosial yang mendalam kepada individu “pecandu” dunia maya, yang merelakan banyak waktu berjam-jam untuk membangun interaksi didepan monitor komputer atau gadget, sehingga relasi sosial dengan orang yang ada di lingkungannya tidak terjalin terlebih lagi relasinya dengan Tuhan. 
        Revolusi Industri banyak memberikan perubahan yang signifikan baik dalam bidang Sosial, Ekonomi, Budaya dan bahkan berpengaruh pada pertumbuhan iman masyarakat terlebih khusus pada pertumbuhan iman pemuda Kristen. Pengaruh yang terlihat jelas dari perilaku yang kecanduan dengan Gadget. Pengaruh nampak yaitu Pertama,Gadget cenderung menjadi candu. Hal itu tentu merugikan terhadap aktivitas, pekerjaan, tugas, kehidupan sosial dengan lingkungan tempat tinggal, dan bahkan terhadap pertumbuhan kerohanian tersebut. Kedua, Gadget dapat menjadi “Berhala” bagi pemuda-pemudi digereja. Yang ketiga, Gadget dapat menjadi penghambat dalam pertumbuhan Kerohanian (iman). Hal ini dikarenakan ketika pengguna menjadi malas untuk melakukan hal-hal kerohanian seperti berdoa, membaca Alkitab, bersaat teduh, dan tidak fokus dalam beribadah.(4)

Kepemimpinan Gembala dan Perannya dalam pembinaan Iman Pemuda 
        Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi pihak lain. Keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada kemampuannya untuk memengaruhi itu. Dengan kata lain kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seorang untuk mempengaruhi orang lain, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut agar dengan pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak-kehendak pemimpin itu dan itulah yang disebut pemimpin yang efektif yang mengerti akan perannya. (5)  Jadi dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi. Sedangkan, 
        Pemimpin Gembala adalah suatu persamaan dogmatis mendeskripsikan peran dan cita-cita, harapan terhadap paran pemimpin terlebih pemimpin gereja (gembala). Secara Alkitabiah, analisis dan rumusan kepemimpinan gembala adalah sebuah konsep pendekatan pelayanan yang menjunjung tinggi nilai-nilai rohani dengan pendekatan yang mempunyai ciri yang khas yaitu kasih, bukan atas kekuasaan, politik dan uang (Yoh. 21 : 15-17). Kalau kita melihat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kepemimpinan gembala adalah kepemimpinan lazim. Itulah sebabnya secara teoritis, kepemimpinan gembala adalah salah satu model kepemimpinan yang harus di kembangkan dan di aktualisasikan dalam segala bentuk dan konteks pelayanan modern saat ini. (6)
        Kepemimpinan adalah suatu proses untuk memengaruhi orang lain sehingga dapat mengikuti atau melakukan apa yang kita perintahkan sehingga tugas yang hendak dicapai. Seperti yang dikemukakan oleh Gary Yukl bahwa kepemimpinan adalah proses memengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efesien dan efektif, sehingga mencapai tujuan bersama. Berdasarkan Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, membagi dua macam gembala dalam Alkitab: “Pertama, orang yang menggembalakan ternak; kedua, orang yang mengasuh dan membina manusia, yaitu gembala yang bersifat ilahi dan fana. Kata Ibrani dalam bentuk partisipium ialah ro’eh, kata Yunani Poimen .(7)
        Dalam 1 Timotius 4:6-11, tugas gembala sidang adalah sebagai pengajar. Pengajar berupaya dalam mentransfer pengetahuan, pandangan, ajaran yang dia miliki kepada peserta didiknya. Tugas ini tidak kalah pentingnya dengan tugas penggembalaan. Tentunya seorang gembala harus mampu menciptakan ide-ide yang kreatif dalam menyampaikan firman Tuhan. Jadi menjadi seorang Gembala menurut Paulus adalah pekerjaan yang paling indah (1 Tim. 3:1). Dengan demikian peran atau tugas gembala sidang yaitu; 
        Pertama, mengingatkan dan mendidik dengan ajaran yang sehat (1 Tim. 4:6), gembala mengarahkan dan mendorong untuk tetap mempertahankan kemurnian Injil dengan standar yang kudus yang bebas dari pengajaran mitos. Kedua, Gembala menasihati kaum mudah pada ajaran yang sehat (1 Tim 4:11). Menurut Susanto kata beritakanlah dalam bahasa Yunani adalah paraggello artinya memerintah, menyuruh, berpesan, dan memberitakan. Ketiga, Gembala mengajar kaum muda sesuai dengan ajaran yang sehat. “Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu” (1 Tim. 4:11). Kata ajarkanlah dalam bahasa Yunani adalah διδασκω didasko artinya mengajar. Kata dasar dari kata “mengajar” adalah kata “ajar.” Kata benda Yunani yang dipakai ialah didaskalia. Kata benda tersebut berjenis akusatif feminim tunggal. Kata ini berasal dari kata διδάσκω yang artinya mengajar atau peringatan. Tujuan Paulus kepada Timotius dalam ayat ini adalah untuk mengajarkan ajaran yang sehat. Istilah sehat dan khususnya dalam kombinasi dengan ajaran atau “perkataan” adalah salah satu ciri khas surat-surat Pastoral (1 Tim. 6:3; 2 Tim. 1:13; 4:3; Tit. 1:9,13; 2:1, 2,8). Jadi dalam konteks ini ada ajaran yang tidak sehat dalam jemaat Efesus, sehingga Paulus menentang ajaran-ajaran palsu, seperti yang ada dalam 1 Tim. 4:1-5. Dengan kata lain bahwa Injil yang diajarkan oleh Paulus dapat disebut sebagai ajaran yang sehat, karena melalui pengajaran yang sehat, hidup manusia yang rusak karena dosa bisa dipulihkan kembali. Maksud ajarkanlah semuanya itu menurut peneliti adalah mengajar Injil keselamatan yang ada dalam Yesus Kristus, (1 Tim. 1:11). Keempat, Gembala dituntut untuk menjadi teladan (1 Tim 4:1-16) Gembala harus mampu memberikan teladan mengenai apa yang diajarkan sehingga diwujud nyatakan di dalam kehidupan sehari-hari, sehingga gembala tidak dipandang rendah sebagai pengajar. (8)   Kelima, Memberikan motivasi untuk mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Sebagai gembala yang bait selayaknya menjadi motivator khususnya didalam meningkatkan kualitas pelayanan dalam melayani Tuhan. (9)

Pembinaan terhadap Iman pemuda Kristen 
        Perkembangan Teknologi Revolusi industri yang cepat dan dinamis, mengakibatkan kita terlenah dan sibuk dengan kepentingan kita sendiri. Kondisi seperti ini menjadi pekerjaan yang tidak sepeleh bagi para gembala dalam Gereja. Apabila kita melihat lebih dalam lagi di dalam dinamika kehidupan yang dialami oleh, pemuda, sangatlah perlu mendapatkan perhatian. Pemuda harus di bina dengan sungguh-sungguh agar memiliki motivasi dan karakternya bertumbuh dan menunjukkan pertumbuhan di dalam kerohanian setiap pemuda. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, Pembinaan adalah “Suatu usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara efesien dan efektif agar mendapat hasil yang baik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembinaan adalah tindakan yang dilakukan kepada orang lain sehingga bertindak lebih baik. Pembinaan dilakukan bukan hanya bersifat jasmani saja, tetapi juga bersifat hal yang rohani sebagai dikatakan dalam UUD 1945, P4, GBHN, Tap MPR 1988, yaitu pembinaan merupakan bagaian dari upaya peningkatan kualitas Indonsia, baik secara jasmani maupun rohani atas seluruh masyarakat. Pembinaan iman pemuda Kristen kalau tidak dilakukan dengan motivasi dan karakter yang baik, maka akan timbul perilaku atau prinsip hidup dari masing-masing pemuda Amsal 22:6 dikatakan “Didiklah orang muda menurut jalan yang baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu” Dari hal ini terlihat jelas bahwa pemuda sangat perlu dibina dengan kata lain dididik agar dalam menghadapi Revolusi Industri ini pemuda tidak terombang-ambingkan tetapi tetap terbimbing oleh firman Tuhan. Berdasarkan Alkitab pembinaan dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu, pembinaan menurut Perjanjian Lama dan Pembinaan menurut Perjanjian Baru. Pertama, menurut Perjanjian Lama, pemuda Kristen harus diajar dan didik sesuai dengan ketetapan-ketetapan Allah (Kel. 18:20). Kata diajarkan utau mengajar berasal dari Yunani Yaitu Katekhein. G. Riemer mengatakan “katekhein (katcein) berasal dari kata katekase, kateketik dan katekisasi, kata ini mempunyai beberapa makna dalam Alkitab, makna utama memberi tekanan kepada otoritas (wewenang, kekuasaan yang sah) dalam hal mengajar. Kedua, menurut perjanjian baru,pemuda harus dibina, didik atau diajar dengan keadilan dan selalu penuh dengan kasih yang murni sehingga pemuda bisa mengontrol keinginan atau nafsu yang kuat dalam diri mereka. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan dan kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni”(II Tim.2:22). Memasuki Era digital atau Revolusi Industri saat ini, gembala dituntut untuk berpikir kreatif untuk mendesain strategi-strategi yang relevan untuk mereka lakukan di Era IR 4.0 ini. Prinsip bahwa “semua orang telah lahir baru” patut dipegang teguh dalam perumusan strategi pembinaan. Strategi yang harus dicanangkan adalah Pelayanan Pembinaan dengan metode pendekatan kontekstual. Menggunakan “Statement of faith” ialah menolong orang percaya bertumbuh menuju ke Yesus Kristus melalui pembinaan Kontekstual. Dalam perumusan pembinaan kontekstual ini ada beberapa prinsip yang harus diketahui, yaitu pemahaman tentang hakekat dan pembentukan pembinaan iman, bentuk pembinaan merupakan sarana dan wahana kondusif, cocok dan kekinian guna mencapai hakekat dan tujuan pembinaan. Prinsip-prinsip dasar dalam perumusan bentuk program pelayanan pembinaan kontekstual padat didefinisikan dalam arti kebutuhan baik dalam nafas doa, dalam pelaksanaan kontekstual dalam kuasa Roh Kudus dan evaluasi dengan pemikiran Roh. (10)
        Strategi yang baik dalam pembinaan iman pemuda Kristen yaitu membentuk kelompok kecil dalam persekutuan pemuda sehingga terjalin komunikasi yang sehat antara gembala dan pemuda, hal ini dimaksudkan agar pemuda bersama-sama mengalami pertumbuhan baik secara Jasmani dan secara Rohani. Dalam kelompok kecil ini juga seorang gembala memperhatikan masalah lainnya yang menyangkut seluruh segi kebutuhan kesehatan,ekonomi, pendidikan dan keluarga. Hal ini akan menjadi pondasi yang baik kepada pertumbuhan pemuda, khususnya dalam menghadapi setiap fase perubahan yang terjadi. (11)
        Bertumbuh dewasa dalam Kristus adalah proses rohani yang terus terjadi secara berkelanjutan. Peran Gembala seperti yang telah dijelaskan diatas merupakan strategi yang selayaknya dilakukan oleh gembala. Dalam menghadapi tantangan pengaruh Era Revolusi Indistri 4.0 kepada Generasi Muda gereja dan bangsa. Selain Gembala seperti yang diungkapkan Gooddal dan gooddal pertumbuhan secara rohani harus dimulai anak-anak dan yang harus berperan disini adalah orang tua melalui, pertama, mempersembahkan anak-anak kepada Allah sedini mungkin dalam hidup mereka (1 Sam. 1;24-28, Luk. 2:22). Kedua, mengajar anak-anak mengenal Allah dan akibat-akibat dari dosa dan penghakiman terakhir. Ketiga, mengasih anak-anak sehingga mereka mengasihi Allah (Ef. 6:4). Keempat, memperkenalkan buku-buku cerita Alkitab. Kelima, mengajar untuk taat kepada orang Tua. Orang tua harus menunjukkan kepada anak-anak bahwa orang tua patut dihormati. Dari kebiasaan ini mereka akan menghormati dan taat kepada Allah. Keenam, membawa anak-anak ke gereja mendengarkan dan menaati firman Tuhan . Dari keenam peran orang tua ini, akan menjadi pondasi yang kuat untuk pertumbuhan rohani generasi Anak-anak Allah. Mereka Anak tetap kuat kokoh walau pun di goncang oleh ombak dan badai kehidupan. Seperti yang terjadi di Era Revolusi Industri 4.0 saat ini.
 
Kesimpulan 
        Dari pembahasan ini, penulis menyimpulkan bahwa Revolusi Industri 4.0 merupakan perkembangan yang memberikan kemudahan diseluruh aspek kehidupan manusia. Era yang yang menggunakan sistem Teknologi yang canggih, yang memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaannya. Di satu pihak memberikan dampak yang negatif, khususnya dalam pertumbuhan iman pemuda Kristen. Kecanduan gadget yang menghambat relasi sosial dan juga pertumbuhan kerohanian yang tidak bertumbuh. Hal ini merupakan kondisi yang yang tidak bisa di pandang sebelah mata dari pihak gereja. Dalam menghadapi kondisi yang kritis ini, para gembala sidang dituntut untuk berpikir kreatif dalam mendesain strategi pembinaan kepada pemuda-pemudi gereja. Pembinaan yang bisa dilakukan yaitu, Pertama pembinaan melalui kelompok kecil dalam pendalaman Alkitab. Kedua, Katekisasi, ketiga, gembala harus mendidik dan mengajar pemuda dengan keadilan dan kemurnian sehingga pemuda dapat mengontrol keinginan atau nafsu yang kuat dalam diri mereka. Ketiga, melalui pendekatan kontekstual artinya seorang gembala benar-benar memperhatikan kebutuhan-kebutuhan secara Rohani maupun juga kebutuhan jasmani seperti kesehatan, Ekonomi, pendidikan dan keluarga.

Referensi 
(1).  Marthen Sapu.”Pengaruh Pembinaan Rohani Terhadap Keaktifan Kaum Muda Dalam pelayanan di Gereja Kristen Holistik Jemaat serenity makasar”, S.Th.,STT Jaffray Makasar, 2016. 
(2). Kardarmanto, Mulyo.“Mandat profetik pendidikan Kristen di Era Revolusi Industri 4.0”, STULOS, 2018. 
(3). Hoedi Prasetyo, Wahyudi Sutopo,” Industri 4.0: Telaah klasifikasi Aspek Dan Arah Perkembangan Riset”,  J@Ti Undip: Jurnal Teknik Industri, Vol. 13, No. 1,( Januari 2018), 2
(4). Klaudia, Jenifer,“Pengaruh pengguna Smartphone terhadapat pertumbuhan kerohanian Mahasiswa-mahasiwa di Sekolah Theologia Jaffray Makasar, S.Th. STT Jeffray, 2018. 
(5) Kartono, Kartini. Pemimpin Kepemimpinan: Apakah kepemimpinan Abnormal itu?, Jakarta: Rajawali Pers, 2016. 
(6) Tafonao, Talizaro,” Peran Gembala Sidang Dalam Mengajar Dan Memotivasi Untuk Melayani Terhadap Pertumbuhan Rohani Pemuda”, Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat, Vol.2, No.1, (Januari 2018)
 (7) Alaidin Koto, Islam Dan Kepemimpinan Di Indonesia. http://www.frreykoto.wordpress.com. Diakses tanggal 04 Desember 2020, pukul 11.13 WITA 
(8)file:///C:/Users/Acer/Downloads/GEMBALA%20Sebagai%20Pengajar,%20Motivator,%20dan%20Inspirator.pdf,di diakses, 04 Desember 2020 Pukul 12:55 Wita) 
(9)Sitompul,PutraHendraS.“pembinaanPemuda”,https://putrasitompul.wordpress.com/2013/10/23/pembinaan berdasarkan-alkitab/ (diakses, 04 Desember 2020 ,pukul 15:00 WITA 
(10) Sanjaya, Harry Gideon, “Peranan Gembala Dalam Pembinaan Warga Gereja” http://harrygideon.blogspot.com/2013/07/peranan-gembala-dalam-pembinaan-warga.html ,diakses 04 Desember, pulul 14:58 WITA 
(11). Diana, Ruat,” Prinsip Teologi Kristen Pendidikan Orang tua terhadap Anak di Era Revolusi Industri 4.0”, BIA’: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual”, Volume 2, No 1, (Juni 2019), 27-39

“Peran Kepemimpinan Gembala terhadap Pembinaan Iman Pemuda Kristen Di Era Revolusi Industri 4.0”

“Peran Kepemimpinan Gembala terhadap Pembinaan Iman Pemuda Kristen  Di Era Revolusi Industri 4.0”   Daud Padondan,  3020175503  Jurusan Kepe...