Generasi Milenial atau generasi Y adalah sebutan bagi mereka yang lahir antara tahun 1980-2000. Umumnya kaum ini memiliki karakteristik, memiliki pola yang lebih terbuka untuk pandangan-pandangan liberal dan humanistik, berfokus pada pemuasan diri dan hedonis, materialistis, rasa ingin dikenal, punya citra diri yang baik, dan dikenal sebagai 'Generation me" (Generasi aku). Generasi muda (milenial) Kristen merupakan aset yang sangat penting bagi perkembangan Gereja di Indonesia. Generasi yang akan melanjutkan tujuan dari Gereja, yaitu bersaksi, melayani dan bersekutu di tengah dunia. Kaum yang akan yang akan menghidupkan gereja dengan ide-ide kreatif mereka yang sesuai dengan firman Tuhan. Namun, secara tidak sadar di zaman digital ini, generasi mudah cenderung telah meninggalkan gereja (gedung). Hal ini dibuktikan oleh riset yang diumumkan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI. Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si kepada satuharapan.com sabtu, o6 juli 2019. Beliau menyatakan bahwa 50 persen generasi penganut agama Kristen di Indonesia meninggalkan gereja.
Generasi milenial Kristen dianggap sudah tidak menghidupi identitas kristen mereka. Ini memang bukan semata-mata kesalahan dari generasi milenial, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan dan pergaulan. Hal ini juga bisa disebabkan oleh kurang pekanya gereja kita sekarang ini yang tidak bisa merangkul kaum muda(milenial). Hal ini beralasan dan dapat kita lihat sesuai dengan keadaan yang dialami gereja sekarang ini yaitu:
Pertama,Tumbuh berkembangnya Agnostisisme (roh yang tidak peduli dan acuh tak acuh) dalam gereja. Yaitu kaum agnostik yang hanya mementingkan diri dan kenyamanan diri sendiri yang tidak mau terganggu atau terusik. Memang mereka pergi ke gereja untuk beribadah tapi itu hanya di jadikan formalitas atau ritual semata saja. Mereka tidak menikmati kehadiran Tuhan yang membuat mereka tidak bertumbuh oleh pengenalan akan firman Tuhan yang mereka dengarkan. Nah...Bagaimana orang-orang ini bisa merangkul kaum milenial, kalau mereka saja tidak tahu identitas mereka sendiri sebagai pengikut Kristus?
Kedua, Orang-orang di dalam gereja tidak mampu lagi menciptakan suasana damai sejahtera dan kasih di gereja sehingga membuat kaum mudah merasa terasingkan ketika pertama masuk ke gereja.
Ketiga, Gereja terlalu fokus pada pertambahan kuantitas tanpa memperhatikan kualitas dari jemaat, fokus gereja hanya terbatas pada keuangan, program-program penunjang sarana prasaranan gereja, gedung gereja, dari pada pertumbuhan kualitas iman jemaat kepada Kristus.
Keempat, Gereja dengan sengaja mengubah doktrin yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan untuk menarik lebih banyak jemaat. Sayangnya hal ini menyimpang dari tujuan memberitakan firman Tuhan, Alhasil generasi muda yang mengerti betul dengan firman Tuhan akan lari dari gereja tersebut.
Kelima, Pemimpin gereja tidak peka terhadap kebutuhan kaum mudah. Dengan aktivitas yang padat dan melelahkan dari senin sampai sabtu, kaum muda membutuhkan penyegaran iman dengan berbagai pertanyaan dalam diri mereka. Sehingga mereka berpikir bahwa pada hari minggu adalah momentum yang baik, untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan mereka. Namun, ketika di gereja mereka tidak mendapatkan jawaban dari situasi atau promblem yang mereka sedang alami saat itu.
Keenam, Kesombongan dari para pelayan-pelayan di gereja, karena sudah bangga dan puas akan hal yang dikerjakan sebagai pelayan Tuhan membuat mereka lupa akan pelayanan sesungguhnya. Pelayanan yang sepenuhnya adalah pelayanan yang dari hati kepada Tuhan bukan kepada manusia. Akibatnya dalam diri mereka timbul rasa mau diakui yang membuat mereka berpikir bahwa mereka lebih suci dibanding jemaat yang lain. Dan ketika mereka telah dikuasai oleh pikiran itu maka mereka tidak mau lagi berbaur dengan jemaat dan kaum muda yang lain.
Selain faktor dari gereja, peran orang tua juga berkontribusi besar kepada generasi milenial tidak aktif di gereja. Ini terjadi ketika para orang tua terlalu menuntut anak kepada hal duniawi ketimbang terlibat dalam pelayanan di gereja. Orang tua cenderung mementingkan pendidikan dan kemampuan anak daripada tergabung dalam pelayanan. Tidak dapat dipungkiri bahwa memiliki prestasi dan kemampuan adalah harap bagi semua orang tua, namun jika hal itu tidak diseimbangkan akan pengenal akan Tuhan maka ilmu itu akan buta, kata " Albert Einstein". Dan juga secara tidak dasar orang tua sudah mengajarkan anak untuk menomorduakan Tuhan, dengan kesibukan yang padat, bahkan pada saat hari minggu.
Jadi alangkah baiknya jika gereja sekarang ini memahami dulu keadaan-keadaan seperti yang telah dibahas di atas, sebelum membuat strategi-strategi untuk merangkul kaum milenial kembali Ke Gereja.
No comments:
Post a Comment