Friday, June 19, 2020

Kenapa Generasi "Milenial" Meninggalkan Gereja?

                                               Generasi Muda dan Semangat Hidup Sosial Gereja - Kompasiana.com
        Generasi Milenial atau generasi Y adalah sebutan bagi mereka yang lahir antara tahun 1980-2000.  Umumnya kaum ini memiliki karakteristik, memiliki pola yang lebih terbuka untuk pandangan-pandangan liberal dan humanistik, berfokus pada pemuasan diri dan hedonis, materialistis, rasa ingin dikenal, punya citra diri yang baik, dan dikenal sebagai 'Generation me" (Generasi aku). Generasi muda (milenial) Kristen merupakan aset yang sangat penting bagi perkembangan Gereja di Indonesia. Generasi yang akan melanjutkan tujuan dari Gereja, yaitu bersaksi, melayani dan bersekutu di tengah dunia. Kaum yang akan yang akan menghidupkan gereja dengan ide-ide kreatif mereka yang sesuai dengan firman Tuhan. Namun, secara tidak sadar di zaman digital ini, generasi mudah cenderung telah meninggalkan gereja (gedung). Hal ini dibuktikan oleh riset yang diumumkan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI. Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si kepada satuharapan.com sabtu, o6 juli 2019. Beliau menyatakan bahwa 50 persen generasi penganut agama Kristen di Indonesia meninggalkan gereja.      

        Generasi milenial Kristen dianggap sudah tidak menghidupi identitas kristen mereka. Ini memang bukan semata-mata kesalahan dari generasi milenial, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan dan pergaulan. Hal ini juga bisa disebabkan oleh kurang pekanya gereja kita sekarang ini yang tidak bisa merangkul kaum muda(milenial). Hal ini beralasan dan dapat kita lihat sesuai dengan keadaan yang dialami gereja sekarang ini yaitu: 

                                        SUPERBOOK

      Pertama,Tumbuh berkembangnya Agnostisisme (roh yang tidak peduli dan acuh tak acuh) dalam gereja. Yaitu kaum agnostik yang hanya mementingkan diri dan kenyamanan diri sendiri yang tidak mau terganggu atau terusik. Memang mereka pergi ke gereja untuk beribadah tapi itu hanya di jadikan formalitas atau ritual semata saja. Mereka tidak menikmati kehadiran Tuhan yang membuat mereka tidak bertumbuh oleh pengenalan akan firman Tuhan yang mereka dengarkan. Nah...Bagaimana orang-orang ini bisa merangkul kaum milenial, kalau mereka saja tidak tahu identitas mereka sendiri sebagai pengikut Kristus?
       Kedua,  Orang-orang di dalam gereja tidak mampu lagi menciptakan suasana damai sejahtera dan kasih di gereja sehingga membuat kaum mudah merasa terasingkan ketika pertama masuk ke gereja. 
       Ketiga, Gereja terlalu fokus pada pertambahan kuantitas tanpa memperhatikan kualitas dari jemaat, fokus gereja hanya terbatas pada keuangan, program-program penunjang sarana prasaranan gereja, gedung gereja, dari pada pertumbuhan kualitas iman jemaat kepada Kristus. 
    Keempat, Gereja dengan sengaja mengubah doktrin yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan untuk menarik lebih banyak jemaat. Sayangnya hal ini menyimpang dari tujuan memberitakan firman Tuhan, Alhasil  generasi muda yang mengerti betul dengan firman Tuhan akan lari dari gereja tersebut. 
     Kelima, Pemimpin gereja tidak peka terhadap kebutuhan kaum mudah. Dengan aktivitas yang padat dan melelahkan dari senin sampai sabtu, kaum muda membutuhkan penyegaran iman dengan berbagai pertanyaan dalam diri mereka. Sehingga mereka berpikir bahwa pada hari minggu adalah momentum yang baik, untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan mereka. Namun, ketika di gereja mereka tidak mendapatkan jawaban dari situasi atau promblem yang mereka sedang alami saat itu.
    Keenam, Kesombongan dari para pelayan-pelayan di gereja, karena sudah bangga dan puas akan hal yang dikerjakan sebagai pelayan Tuhan membuat mereka lupa akan pelayanan sesungguhnya. Pelayanan yang sepenuhnya adalah pelayanan yang dari hati kepada Tuhan bukan kepada manusia. Akibatnya dalam diri mereka timbul rasa mau diakui yang membuat mereka berpikir bahwa mereka lebih suci dibanding jemaat yang lain. Dan ketika mereka telah dikuasai oleh pikiran itu maka mereka tidak mau lagi berbaur dengan jemaat dan kaum muda yang lain. 

        Selain faktor dari gereja, peran orang tua juga berkontribusi besar kepada generasi milenial tidak aktif di gereja. Ini terjadi ketika para orang tua terlalu menuntut anak kepada hal duniawi ketimbang terlibat dalam pelayanan di gereja. Orang tua cenderung mementingkan pendidikan dan kemampuan anak daripada tergabung dalam pelayanan. Tidak dapat dipungkiri bahwa memiliki prestasi dan kemampuan adalah harap bagi semua orang tua, namun jika hal itu tidak diseimbangkan akan pengenal akan Tuhan maka ilmu itu akan buta, kata " Albert Einstein". Dan juga secara tidak dasar orang tua sudah mengajarkan anak untuk menomorduakan Tuhan, dengan kesibukan yang padat, bahkan pada saat hari minggu.

        Jadi alangkah baiknya jika gereja sekarang ini memahami dulu keadaan-keadaan seperti yang telah dibahas di atas, sebelum membuat strategi-strategi untuk merangkul kaum milenial kembali Ke Gereja.







Thursday, June 18, 2020

Kamu Mahasiswa?

                                               87% Mahasiswa Indonesia Salah Jurusan - BeritaSatu.com

        Mahasiswa adalah sebutan bagi mereka yang sedang menempuh  pendidikan di perguruan tinggi. Dan ada juga yang mengartikan kata mahasiswa dengan melihat perannya sebagai Direct of Change, Agent of Change, Iron Stock, Moral Force dan Social control. Namun, apakah semua individu yang menyandang status tersebut benar-benar aware dengan statusnya sebagai mahasiswa?..Pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh individu tersebut. Menjadi Mahasiswa merupakan salah satu kesempatan yang baik, dimana kesempatan itu tidak dimiliki oleh semua orang. Ada banyak orang yang lulus dari sekolah mengah atas ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan mendaftarkan diri ke salah satu perguruan tinggi atau universitas yang mereka inginkan, tapi mereka terkendalah dengan masalah biaya dan faktor lainnya, sehingga hal itu hanya sebatas mimpi bagi mereka. Untuk itu anda yang telah menyandang status sebagai Mahasiswa bersyukur buat kesempatan yang anda alami saat ini. Tidak dipungkiri setiap dari kita memiliki motivasi yang berbeda-bedah ketika masuk ke perguruan tinggi. Ada yang ingin menjadi sarjana lalu mencari pekerjaan, ada yang dikirim oleh lingkungannya agar nantinya dapat memecahkan masalah di daerahnya, ada juga yang berpikir dari pada tinggal dirumah mending kuliah saja, atau mungkin ada juga yang hanya menjadikan statusnya sebagai mahasiswa supaya dianggap di lingkungannya. Apapun motivasi anda sekarang ini, anda harus aware bahwa ketika anda sedang menyandang status bagai seorang mahasiswa berarti anda sedang memikul tanggung jawab yang besar. 

        Mungkin ketika kita sedang berjalan-jalan ditempat umum, ada orang mengajukan pertanyaan begini "Apakah anda Mahasiswa?" bagaimana jawaban kita?. Mungkin ada yang langsung menjawab ya..benar saya mahasiswa dengan suara yang pelan sambil tersenyum, ada yang menjawab iya saya mahasiswa dengan mimik muka yang datar, atau ada juga yang dengan sigap dan suara yang lantang menjawab Ya.. saya seorang mahasiswa. Dari jawaban tersebut kita tidak bisa mengukur apakah mahasiswa tersebut sadar atau tidak sadar dengan statusnya sebagai mahasiswa. 
        Dalam masyarakat, Mahasiswa dapat disebut atau dikatakan sebagai suatu komunitas yang unik yang memiliki kesempatan dan kelebihan, dalam arti mahasiswa mampu berada sedikit di atas masyarakat. Mahasiswa belum terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan suatu komunitas, golongan, parpol, ormas-ormas atau dll.  Idealisme atau kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang yang tidak dapat  terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menggeser suatu makna dari kebenaran tersebut. Seharusnya kesadaran ini yang wajib dimiliki oleh setiap individu yang mengaku diri sebagai Mahasiswa. Lalu pertanyaannya bagaimana seorang mahasiswa dapat mengeksplor potensi dan kesempatan yang ia miliki kalau mahasiswa itu hanya mementingkan kebutuhan pribadinya, tanpa berkontribusi dengan masalah yang terjadi lingkungan sekitarnya.  Menjadi seorang mahasiswa bukan bukan sebatas rajin belajar, tidak absen saat kuliah dimulai, membaca buku, ikut seminar atau diskusi-diskusi, tapi mahasiswa sebenarnya ketika ia mau belajar dan menerapkan apa yang sudah ia pelajari untuk memecahkan masalah dalam masyarakat.

        Peran seorang mahasiswa sebagai Agent of Change, Iron Stock, Moral Force dan sebagai Social Control merupakan tanggung jawab yang besar bagi individu yang berstatus sebagai mahasiswa. 


Pertama, sebagai Agent Of Change atau Generasi Perubahan

                                        Saya Mahasiswa, benarkah? - Ilham Muzakki - Medium
        Mahasiswa sebagai generasi perubahan artinya ketika ada perubahan yang terjadi dan itu  tidak sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku dalam lingkungan tersebut, maka seorang mahasiswa tidak boleh tinggal diam, melainkan seorang mahasiswa dituntut untuk mengambil sikap merubah keadaan tersebut sesuai dengan harapan. Mahasiswa diharapkan menggunakan disiplin ilmu untuk membangun daerah dan negara Indonesia menjadi lebih baik lagi ke depannya. Karena mahasiswa memiliki intelektual dan cara berpikir yang matang untuk bisa menjadi penengah antara masyarakat dan pemerintah. 

Kedua, Iron Stock atau Generasi Penerus

        Kehidupan manusia terus berganti, golongan tua akan di gantikan oleh golongan yang lebih mudah. Generasi penerus adalah tulang punggung dari suatu bangsa, Mahasiswa diharapkan sebagai pengganti dari generasi sebelumnya, tentunya dengan kemampuan, keterampilan dan akhlak yang inheren (berhubungan erat) dengan dirinya. Dengan kata lain generasi penerus adalah aset, cadangan, dan harapan yang dimiliki oleh bangsa di masa yang akan datang. Tidak dapat dipungkiri semua organisasi akan mengalami suatu aliran pergantian generasi dari golongan tua ke golongan muda, untuk itu organisasi dituntut untuk melakukan kaderisasi secara terus menerus. Momentum yang baik untuk melakukan kaderisasi adalah didunia kampus dan kelembagaannya.


Ketiga, Moral Force atau Gerakan moral
        
        Mahasiswa dikatakan sebagai kaum yang idealis yang memiliki akhlak yang baik. Untuk itu tindakan atau perbuatannya seharusnya menjadi contoh dan teladan dalam suatu masyarakat. Hal ini karena Mahasiswa adalah bagian yang tidak terlepas dari masyarakat. Stabilitas dalam masyarakat menjadi tanggung jawab Mahasiswa. Mahasiswa wajib merubah dan meluruskan norma yang teladan bergeser dari yang sebenarnya dan sesuai dengan harapan, atau ketika moral bangsa semakin rusak, mahasiswa diharapkan dapat merubahnya kearah yang lebih baik melalui aksi atau kritis diplomatis.

Keempat, Social Control atau Generasi Pengontrol
        Mahasiswa lahir dari masyarakat oleh sebab itu seharusnyalah Mahasiswa memiliki peran sosial tinggi yang dapat mengontrol ketika ada situasi yang tidak beres atau ganjil dalam masyarakat dan pemerintah. Selain pintar secara akademis, Mahasiswa juga dituntut untuk pintar dalam bersosialisasi dan memiliki kepekaan terhadap situasi di sekitarnya. Kritik, saran, dan memberikan solusi kepada pemerintah ketika mengeluarkan kebijakan yang tidak sesuai dengan cita-cita bangsa dan membebani rakyat merupakan bentuk kepekaan dan kontribusi yang diharapkan dari Mahasiswa.
            
Jadi ketika kita menyandang Status Mahasiswa, seyogyanya kita aware akan tangung jawab kita sebagai mahasiswa dengan memahami peran-peran seperti pembahasan diatas.


Wednesday, June 17, 2020

Berjuang Sampai Batas Kemampuan

                                              Boleh Pasrah Tapi Jangan Nyerah, Bukankah Masalah Akan Menjadi ...

      Kemampuan adalah salah satu anugerah yang diberikan Tuhan kepada setiap orang untuk mengerjakan atau melakukan sesuatu. Kita tidak bisa pungkiri kalau setiap dari kita mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada orang diberikan kemampuan untuk bisa memainkan alat musik, menyanyi, olahragawan handal, dan masih banyak lagi. Tergantung bagaimana kita menyadari kemampuan yang ada dalam diri kita. Selanjutnya mencoba untuk mengembangkannya. Karena kita tahu bahwa tanpa mencoba kamu tidak akan tahu sampai mana batas kemampuanmu. 
                                              Hal Yang Harus Kamu Ingat. Saat Rasa Ingin Menyerah Datang - Hidup ...
            Namun, kadang kala kita sering dihadapkan kepada suatu keadaan yang membuat kita lupa akan kemampuan yang kita miliki. keadaan pesimis. Kita belum mencoba tapi sudah menyerah terlebih dulu "ibarat kata orang yang mau menembak tapi sudah tertembak duluan". Keadaan ini terjadi pada saat pikiran kita dalam situasi tertekan oleh banyaknya pekerjaan, pikiran mulai berkata "aku sudah tidak mampu lagi" alhasil harapan yang kita miliki perlahan mulai memudar. Berat rasanya ketika dalam situasi ini, pikiran kita terasa berat sekali untuk bisa berpikir jernih lagi. Berhentilah sejenak dari pekerjaan anda dan mulai buat diri anda merasa tenang dan berpikirlah bahwa anda belum mengeluarkan kemampuan anda sepenuh. Bangkit, berjuanglah dengan penuh optimis untuk tetap maju, yakin lah bawa harapan itu terus bersamamu. Harapan dari orang-orang yang menyanyangimu, orang tua yang tidak berhenti mendoakanmu siang dan malam. Abaikan perasaan-perasaan yang negatif yang datang dalam dirimu atau perkataan-perkataan yang meremehkan mu yang terdengar di telingamu. Sebaliknya jadikan semuanya itu motivasi untuk bangkit dan buktikan bahwa kamu memiliki kemampuan yang lebih dari apa yang orang pikirkan. Maka kamu akan melihat perkataan-perkataan yang meremehkanmu berubah menjadi pujian. 

                                                    Ketika Kamu Ingin Menyerah, Ini yang Sepantasnya Kamu Lakukan ...
         So never give up on your dreams. Today may be hard, but tomorrow will be worse. Jangan melihat kesulitan menjadi hambatan, tapi lihatlah setiap tantangan dan kesulitan sebagai peluang untuk terus berkembang sampai batas kemampuanmu.




Tuesday, June 16, 2020

Diperbudak Kecanduan

                                               Jaringan Perbudakan Terbesar di Inggris Terbongkar, 8 Orang Dipenjara
         Mungkin dalam benak kita berpikir bahwa kata "Diperbudak" itu hanya istilah yang digunakan untuk menyebutkan seseorang yang ditindas, oleh seseorang yang kekuasaannya lebih dari orang yang ditindas. Ya...kalau kita flashback ke sejarah di negara kita, praktik perbudakan tersebut terjadi pada kurun niaga (1400-1700). Pada saat itu perbudakan menjadi sistem kerja yang absah. Rakyat terpaksa menyodorkan diri dengan sukarela menjadi budak kepada para penguasa karena pada saat itu mereka tidak ada pilihan lain. Hutang yang melilit, ketidakmampuan membayar mas kawan, gagal panen, bencana dan sebagainya.(Sumber: historia.id).
        Kita menyatakan bahwa peristiwa ini memang sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Sekarang kita hidup di zaman yang berbeda, zaman yang modern dengan sistem pemerintahan yang demokrasi. Masa dimana tidak ada lagi orang yang mau menjadi budak yang mau di suruh-suruh. Tidak ada lagi rasa kasihan ketika melihat orang yang ditarik atau dipukuli dijalan, akibat tidak mematuhi perintah dari tuannya. Memang semua itu sudah berlalu dan hanya meninggalkan bekas sejarah. Namun, sadar tidak sadar praktek perbudakan itu masih terjadi dan bahkan lebih kejam dan lebih sadis dari pada yang sebelumnya.  Lalu kita bertanya " praktek perbudakan apa sih yang terjadi pada saat ini yang lebih kejam dan lebih sadis dibanding yang dulu?" ."KECANDUAN" ya itulah jawabannya. mungkin kita berpikir "kok bisa kecanduan bisa memperbudak?, bagaimana bisa memerintah?, atau bagaimana bentuk penyiksannnya?  
        Kita tahu bahwa kecanduan atau ketagihan adalah reaksi tubuh dan pikiran saat kita menginginkan atau memerlukan sesuatu agar dapat bekerja dengan baik. Dikatakan pecandu ketika seseorang memiliki ketergantungan fisik dan ketergantungan psikologi  terhadap zat psikoaktif (alkohol, heroin, tembakau, kafeina, dan nikotin.(Sumber:Wikipedia) 
        Kecanduan  dapat juga dipandang sebagai suatu keterlibatan pada zat dan aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus yang memiliki dampak atau hasil yang negatif. Yang dicari dalam keterlibatan zat atau aktivitas ini adalah kenikmatan dan kepuasan diri sesaat lalu kembali perasaan yang normal kembali(diikuti rasa penyesalan). Orang yang kecanduan akan merasa ada sesuatu yang kurang atau hilang dari dalam dirinya ketika tidak melakukan sesuatu hal bisa membuat diri mereka terpuaskan. Seseorang yang mengalami kondisi tersebut telah masuk ke dalam golongan orang-orang yang sedang diperbudak kecanduan. Kecanduan tidak hanya merusak fisik dan jiwa melainkan juga merusak  masa depan, merusak generasi, dan merusak bangsa. 

    Berikut ini ada dua hiburan yang lagi hits yang bisa membuat kita terlibat dalam perbudakan kecanduan di tengah pandemi Covid 19 yang terjadi sekarang ini.

Pertama Game Online
                                            Cegah Anak Kecanduan Game, Lakukan Ini Sebelum Terlambat | ruber.id

        KOMPAS.com pada 19/06/2018 melansir pernyataan organisasi kesehatan Dunia (WHO)  yang resmi menyatakan bahwa Game sebagai gangguan mental. Dan langsung dimasukkan kedalam sistem yang berisi klasifikasi penyakit dan berbagai tanda-tanda, kelainan, gejala, dan penyebab, sistem ini disebut dengan International Statistical Classification of Diseases and Related Health problems yang disingkat dengan ICD. Dan WHO (world health organization) juga memasukkan kedalam dalam daftar disorders due to addictive behevior atau penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan. Ada tiga hal kecanduan game ini dapat dikategorikan sebagai penyakit. Pertama, seseorang tidak dapat mengontrol atau mengendalikan kebiasaan bermain game tersebut. Kedua, Memprioritaskan atau mengutamakan game di atas kegiatan yang lain. Ketiga, seseorang itu tahu kosekuensi negatif yang nampak terlihat jelas namun mereka menghiraukan hal tersebut dan terus bermain. (Sumber: Science Alert, selasa, 19/6/2018). Dampak lain dari bermain game online adalah gangguan penglihatan, obesitas karena malas bergerak, dan  sindrom quesvain yaitu peradangan tendon yang mengakibatkan, ibu jari sampai pergelangan tangan terasa sakit karena melakukan aktivitas yang hanya berfokus pada gerakan tangan berulang-ulang. 
                                
Kedua, Drakor

                                    Kiat Mengatasi Kecanduan Internet
        Drakor atau drama korea, Ya tak dapat dipungkiri bahwa hiburan ini sedang mewabah pada saat ini. Ditambah lagi kondisi yang memberikan peluang yang besar akibat di rumah saja karena pandemi covid 1. Konten yang biasanya terdiri dari 16-20 episode ini membuat para penonton rela melakukan berbagai cara agar bisa menontonnya hingga episode terakhir. Ada yang menonton sampai semalam suntuk, menyaksikan melalui gadget baik itu di dalam transportasi umum, dalam kelas, hingga memanfaatkan waktu libur untuk menyaksikannya. Jika hal demikian dilakukan secara terus-menerus bukan tidak mungkin akan membawa dampak yang buruk bagi kehidupan anda. misalnya dirangkum dari CNN Indonesia bahwa di China pada tahun 2016 yang lalu ada seorang gadis yang hampir buta karena kecanduan hingga menonton drama korea 16 episode selama 18 jam tanpa berhenti. Kebayang nggak aksi yang dilakukan gadis ini. Fakor negatif lain dari keseringan menyaksikan drama korea adalah kurang produktif, aktivitas atau kegiatan yang sudah dijadwalkan berantakan, kehilangan momen yang berharga bersama orang terdekat dan masih banyak lagi. Nah...Agar kamu bisa terhindar dari  kecanduan tersebut ini solusi yang bisa kamu lakukan; pertama, luangkan waktu sejenak dan pikirkan hal baik apa yang bisa kamu lakukan dengan waktu yang sudah kamu pakai menyaksikan drama korea tersebut dan coba untuk berubah; kedua, hindari informasi seputar drama korea; ketiga, fokuskan diri pada aktivitas yang bermanfaat; keempat, lakukan perubahan secara bertahap dengan cara buatlah jadwal untuk menonton drama korea setiap hari dan terus kurangi waktu kamu menonton. misal, di hari pertama kamu menonton selama 2 jam, coba di hari kedua kamu turuni menjadi 1 setengah jam atau berapalah yang kamu suka yang  penting turun dari 2 jam tersebut. Lakukan hal tersebut secara terus-menerus sampai kecanduanmu terkikis secara perlahan, kelima, Jadi penonton yang bijak artinya tahu waktu yang tepat menonton tanpa melewatkan waktu yang berharga.
 
Penulis: Semoga artikel ini bermanfaat buat pembaca, dan jika ada kitik atau saran yang sifatnya membangun artikel ini lebih baik lagi..Comment di kolom komentar.
Terimakasih.

“Peran Kepemimpinan Gembala terhadap Pembinaan Iman Pemuda Kristen Di Era Revolusi Industri 4.0”

“Peran Kepemimpinan Gembala terhadap Pembinaan Iman Pemuda Kristen  Di Era Revolusi Industri 4.0”   Daud Padondan,  3020175503  Jurusan Kepe...