Mungkin dalam benak kita berpikir bahwa kata "Diperbudak" itu hanya istilah yang digunakan untuk menyebutkan seseorang yang ditindas, oleh seseorang yang kekuasaannya lebih dari orang yang ditindas. Ya...kalau kita flashback ke sejarah di negara kita, praktik perbudakan tersebut terjadi pada kurun niaga (1400-1700). Pada saat itu perbudakan menjadi sistem kerja yang absah. Rakyat terpaksa menyodorkan diri dengan sukarela menjadi budak kepada para penguasa karena pada saat itu mereka tidak ada pilihan lain. Hutang yang melilit, ketidakmampuan membayar mas kawan, gagal panen, bencana dan sebagainya.(Sumber: historia.id).
Kita menyatakan bahwa peristiwa ini memang sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Sekarang kita hidup di zaman yang berbeda, zaman yang modern dengan sistem pemerintahan yang demokrasi. Masa dimana tidak ada lagi orang yang mau menjadi budak yang mau di suruh-suruh. Tidak ada lagi rasa kasihan ketika melihat orang yang ditarik atau dipukuli dijalan, akibat tidak mematuhi perintah dari tuannya. Memang semua itu sudah berlalu dan hanya meninggalkan bekas sejarah. Namun, sadar tidak sadar praktek perbudakan itu masih terjadi dan bahkan lebih kejam dan lebih sadis dari pada yang sebelumnya. Lalu kita bertanya " praktek perbudakan apa sih yang terjadi pada saat ini yang lebih kejam dan lebih sadis dibanding yang dulu?" ."KECANDUAN" ya itulah jawabannya. mungkin kita berpikir "kok bisa kecanduan bisa memperbudak?, bagaimana bisa memerintah?, atau bagaimana bentuk penyiksannnya?
Kita tahu bahwa kecanduan atau ketagihan adalah reaksi tubuh dan pikiran saat kita menginginkan atau memerlukan sesuatu agar dapat bekerja dengan baik. Dikatakan pecandu ketika seseorang memiliki ketergantungan fisik dan ketergantungan psikologi terhadap zat psikoaktif (alkohol, heroin, tembakau, kafeina, dan nikotin.(Sumber:Wikipedia)
Kecanduan dapat juga dipandang sebagai suatu keterlibatan pada zat dan aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus yang memiliki dampak atau hasil yang negatif. Yang dicari dalam keterlibatan zat atau aktivitas ini adalah kenikmatan dan kepuasan diri sesaat lalu kembali perasaan yang normal kembali(diikuti rasa penyesalan). Orang yang kecanduan akan merasa ada sesuatu yang kurang atau hilang dari dalam dirinya ketika tidak melakukan sesuatu hal bisa membuat diri mereka terpuaskan. Seseorang yang mengalami kondisi tersebut telah masuk ke dalam golongan orang-orang yang sedang diperbudak kecanduan. Kecanduan tidak hanya merusak fisik dan jiwa melainkan juga merusak masa depan, merusak generasi, dan merusak bangsa.
Berikut ini ada dua hiburan yang lagi hits yang bisa membuat kita terlibat dalam perbudakan kecanduan di tengah pandemi Covid 19 yang terjadi sekarang ini.
Pertama Game Online
KOMPAS.com pada 19/06/2018 melansir pernyataan organisasi kesehatan Dunia (WHO) yang resmi menyatakan bahwa Game sebagai gangguan mental. Dan langsung dimasukkan kedalam sistem yang berisi klasifikasi penyakit dan berbagai tanda-tanda, kelainan, gejala, dan penyebab, sistem ini disebut dengan International Statistical Classification of Diseases and Related Health problems yang disingkat dengan ICD. Dan WHO (world health organization) juga memasukkan kedalam dalam daftar disorders due to addictive behevior atau penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan. Ada tiga hal kecanduan game ini dapat dikategorikan sebagai penyakit. Pertama, seseorang tidak dapat mengontrol atau mengendalikan kebiasaan bermain game tersebut. Kedua, Memprioritaskan atau mengutamakan game di atas kegiatan yang lain. Ketiga, seseorang itu tahu kosekuensi negatif yang nampak terlihat jelas namun mereka menghiraukan hal tersebut dan terus bermain. (Sumber: Science Alert, selasa, 19/6/2018). Dampak lain dari bermain game online adalah gangguan penglihatan, obesitas karena malas bergerak, dan sindrom quesvain yaitu peradangan tendon yang mengakibatkan, ibu jari sampai pergelangan tangan terasa sakit karena melakukan aktivitas yang hanya berfokus pada gerakan tangan berulang-ulang.
Kedua, Drakor
Drakor atau drama korea, Ya tak dapat dipungkiri bahwa hiburan ini sedang mewabah pada saat ini. Ditambah lagi kondisi yang memberikan peluang yang besar akibat di rumah saja karena pandemi covid 1. Konten yang biasanya terdiri dari 16-20 episode ini membuat para penonton rela melakukan berbagai cara agar bisa menontonnya hingga episode terakhir. Ada yang menonton sampai semalam suntuk, menyaksikan melalui gadget baik itu di dalam transportasi umum, dalam kelas, hingga memanfaatkan waktu libur untuk menyaksikannya. Jika hal demikian dilakukan secara terus-menerus bukan tidak mungkin akan membawa dampak yang buruk bagi kehidupan anda. misalnya dirangkum dari CNN Indonesia bahwa di China pada tahun 2016 yang lalu ada seorang gadis yang hampir buta karena kecanduan hingga menonton drama korea 16 episode selama 18 jam tanpa berhenti. Kebayang nggak aksi yang dilakukan gadis ini. Fakor negatif lain dari keseringan menyaksikan drama korea adalah kurang produktif, aktivitas atau kegiatan yang sudah dijadwalkan berantakan, kehilangan momen yang berharga bersama orang terdekat dan masih banyak lagi. Nah...Agar kamu bisa terhindar dari kecanduan tersebut ini solusi yang bisa kamu lakukan; pertama, luangkan waktu sejenak dan pikirkan hal baik apa yang bisa kamu lakukan dengan waktu yang sudah kamu pakai menyaksikan drama korea tersebut dan coba untuk berubah; kedua, hindari informasi seputar drama korea; ketiga, fokuskan diri pada aktivitas yang bermanfaat; keempat, lakukan perubahan secara bertahap dengan cara buatlah jadwal untuk menonton drama korea setiap hari dan terus kurangi waktu kamu menonton. misal, di hari pertama kamu menonton selama 2 jam, coba di hari kedua kamu turuni menjadi 1 setengah jam atau berapalah yang kamu suka yang penting turun dari 2 jam tersebut. Lakukan hal tersebut secara terus-menerus sampai kecanduanmu terkikis secara perlahan, kelima, Jadi penonton yang bijak artinya tahu waktu yang tepat menonton tanpa melewatkan waktu yang berharga.
Penulis: Semoga artikel ini bermanfaat buat pembaca, dan jika ada kitik atau saran yang sifatnya membangun artikel ini lebih baik lagi..Comment di kolom komentar.
Terimakasih.
Mantap...
ReplyDelete